Saya suka musik, saking senangnya dimana-mana selalu ingin dengar musik. Tentu saja tidak semua musik, hanya yang saya sukai saja.
Dua tahun lalu,
Pakne Diki yang pengertian membelikan sebuah MP3 Player mungil berkapasitas 512MB. Pada waktu itu kapasitas segitu sudah cukup lumayan. Saya senang, karena bisa mendengarkan musik sambil menyapu halaman, mengepel, menyeterika, masak, mencuci. Pokoknya sambil beraktivitas sehari-hari di rumah. Pakai MP3 Player itu sungguh fleksibel, tidak repot seperti menggunakan soundsystem yang gede yang tidak bisa dibawa kemana-mana, yang kalau saya ingin mendengarkan musik sambil menyapu halaman harus dibesarkan volumenya (bisa-bisa mengganggu tetangga). Dengan MP3 Player mungil itu, musik cukup saya nikmati sendiri. Seringkali saya menyambungkan dengan speaker aktif kecil yang mudah dipindah. Suaranya cukup nyaman, maklum,
Pakne Diki sudah mengutak-utik sehingga walaupun kecil suaranya jernih, bass-nya mantap.
Beberapa hari lalu, saya mendengarkan musik sambil mencuci. Tiba-tiba ketika akan mengganti lagu, MP3 Player itu jatuh ke dalam mesin cuci yang penuh air sabun. Segera saya ambil, tapi sudah mati dan tidak bisa dihidupkan lagi. Saya sedih sekali...

Malam harinya saya ceritakan pada
Pakne Diki perihal peristiwa naas siang hari itu.
Pakne Diki mengamati MP3 Player itu, membawanya ke kamar kerjanya dan membongkarnya. Karena persediaan silica-gel kebetulan habis (
Pakne Diki biasa menggunakan silica-gel untuk mengepak barang-barang elektronik yang akan dipaketkan),
Pakne Diki menaruh MP3 Player yang sudah dibongkar itu dalam sebuah kotak bersama segenggam beras.

Beberapa hari kemudian, semalaman
Pakne Diki mengutak-utik MP3 Player itu, sibuk bermain blower dan mencari-cari komponen dari hp dan motherboard rusak. Esoknya MP3 Player itu sudah sembuh. Kata
Pakne Diki, ada beberapa kapasitor yang meletus karena MP3 Player itu dicoba dihidupkan dalam keadaan basah. Saya tidak
mudheng karena komponen yang dimaksud
Pakne Diki yang diblower-blower di bawah loop itu besarnya hanya seperempat butiran beras.

Saya senang karena MP3 Player itu bisa dipakai kembali, walaupun harus diisi lagu baru. Saya juga bangga,
Pakne Diki itu walaupun bentuk tangannya jelek, kukunya pendek-pendek, tapi sangat trampil.
Sebetulnya ketrampilan tangan Pakne Diki sudah jauh berkurang semenjak 4 tahun lalu jatuh setelah dari sepeda motor dan patah tulang pundaknya, pun pernah terkena typhus dan demam berdarah. Sampai sekarang jari-jarinya agak bergetar kalau memegang benda-benda kecil -saya tidak tahu, apakah musibah itu berpengaruh pada koordinasi motorik tangannya-.
Yah... senang juga, akhirnya saya bisa kembali nyetel lagu. Ketika dicoba pertama kali,
Diki berkomentar, "Wah... sekarang suaranya lebih bersih ya!"
Pakne Diki enteng saja berkomentar, "Ya eeyalah, lha wong habis dicuci, pakai mesin lagi."
Saya jadi malu, apalagi
Diki masih menambahi, "Oooo... nggak heran deh! Ada wangi Molto!"