Minggu, 05 Desember 2010

Pengembangan Internet For Kids di Kartasura, SKH

Setelah tertatih-tatih selama kurang lebih setengah tahun semenjak persiapan pengembangannya pada pertengahan 2010 ini, akhirnya pengembangan Internet For Kids Jilid Dua yang diberi nama IFK 2.0 berhasil direalisasikan pada 25 November 2010.
Dari beberapa titik rencana pengembangan IFK, dipilihkan Desa Gumpang, Kec. Kartasura sebagai "pilot project" dilatar-belakangi beberapa alasan antara lain:
  • Dekat dengan domisili pengembang sehingga memudahkan pemantauan.
  • Diintegrasikan dengan bimbingan belajar untuk anak-anak walaupun masing-masing kegiatan berdiri sendiri-sendiri.
  • Kesiapan peralatan sementara ini hanya cukup digunakan untuk mengembangkan satu unit IFK saja.
Internet For Kids di Kartasura ini diberi codename IFK-2.1. Pengembangan di titik lain selanjutnya akan diberi nama IFK-2.2, IFK-2.3, dan seterusnya.
Sayangnya, sementara ini pemenuhan investasi pengembangan IFK baru berasal dari partisipasi individu-individu saja. Belum ada satupun institusi yang tertarik pada pengembangan Internet For Kids. Ini bukan hambatan, melainkan tantangan bagi pengembang IFK, agar IFK secara nyata bisa lebih bermanfaat bagi sesama.
Berikut ini dokumentasi pengembangan IFK-2.1 yang beralamat di:

Jl. Pinang No. 4, Tegalmulyo, Desa Gumpang,
Kec. Kartasura, Sukoharjo 57169,
Telp: 0271 743909.
Mulai dari perakitan peralatan sampai setting jaringan dan layout IFK, dibantu oleh Diki, bersama kawan-kawan siswa SMKN 2 Surakarta Jurusan TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan).
Setting dan layout menyesuaikan dengan kecukupan ruangan.

Akhirnya terlihat keren walaupun menggunakan meja murahan dari papan bekas kotak sabun, alas lantai karpet talang air, dan jok busa 4cm handmade pengrajin dari RT setempat.

Ujicoba IFK sudah ada peminatnya. Pakai Linux pun tidak ada kendala penggunaan sama sekali.
IFK-2.1 ini terintegrasi dengan kegiatan bimbingan belajar yang dikelola oleh Bu Noor. Pada jam-jam di luar jam gratis, peserta bimbel tetap bisa menggunakan fasilitas IFK dengan gratis. Terbukti ini cukup memotivasi banyak peserta bimbel untuk lebih giat belajar.
Titik-titik pengembangan IFK di tempat lain sementara ini masih menunggu kesiapan peralatan, semoga segera terealisir menyusul IFK-2.1 ini.

READ MORE - Pengembangan Internet For Kids di Kartasura, SKH

Minggu, 04 Juli 2010

Umur Ideal Masuk SD

Tidak semua yang Liburan di saat Tahun Ajaran Baru bisa benar-benar menikmati liburannya. Sebagian malah disibukkan oleh urusan mencari sekolah. Yang lulus SMA sederajat sibuk mencari peluang masuk di perguruan tinggi ternama, yang lulus SMP sederajat sibuk mencari peluang masuk SMA/SMK favorit, yang baru lulus SD juga sibuk mencari SMP unggulan, yang bosan sekolah sambil bermain di Taman Kanak-Kanak pun ingin segera masuk SD. Tidak mesti yang sibuk adalah anak-anak dan remaja calon peserta didik. Orang tua justru lebih banyak sibuknya disertai kekhawatiran bila anaknya tidak diterima. Termasuk saya... :-D

Dan tahun ini saya pun disibukkan oleh Diki yang telah lulus SMP dan ingin melanjutkan ke SMK... Forget it! Saya tidak akan membahas itu. Justru saya akan membahas anak-anak yang masuk SD dan akan menikmati Hari Pertama Masuk Sekolah di sekolah yang benar-benar sekolah bukan sambil bermain seperti di TK.
Berikut kutipan dari sebuah artikel yang berkaitan dengan Psikologi Anak:

TAK semua anak punya perkembangan intelektual yang ‘normal’ atau rata-rata. Ada anak ‘gifted’ atau ‘talented’ -yaitu dikaruniai kecerdasan atau bakat luar biasa- yang tingkat intelektualitasnya jauh melampuai anak-anak lain seusianya. Sayangnya, kadang anak gifted ini baru diketahui setelah ia masuk SD. Coba kalau bisa diketahui saat ia masih di preschool, kan bisa masuk SD lebih cepat.
Tapi, bagaimana peluang anak berbakat ini? Gimana orangtua mengetahui kalau anaknya berbakat? Sebenarnya bisa saja lho, anak yang belum berusia 6 tahun bersekolah di sekolah dasar. Sebab yang lebih penting sebenarnya kesiapan umur mental si anak, yakni kemampuan mental dan intelektual, bukan umur kalendernya.
“Contoh, anak umur 4 tahun tapi umur mentalnya 6 tahun, berarti mereka sudah siap masuk SD,” papar Prof Dr. S.C . Utami Munandar, guru besar psikologi anak Universitas Indonesia.
Cuma, untuk mengetahui apakah umur mental anak siap, orangtua mesti mengeceknya dengan melakukan tes umur mental ke psikolog. Dari sini, nanti bisa diketahui IQ anak, dengan rumus: (umur mental/umur kalender) x 100 = IQ. Bila skor IQ anak di atas 130, jauh di atas anak normal (skor IQ 85-115), bisa saja ia dipandang gifted dan dipertimbangkan masuk SD lebih awal, setelah mempertimbangkan aspek-aspek lainnya.
Menurut Utami, jumlah anak berbakat di Indonesia sekitar 2-5% dari keseluruhan anak. Namun sejauh ini belum semuanya mendapat pendidikan khusus. Tak semua sekolah mempunyai fasilitas, sarana, dan prasarana yang bermutu, ataupun kelas unggulan yang bisa mengembangkan dan melihat anak-anak yang berbakat.
Padahal sebenarnya dengan bakat di bidang intelektual, tak menutup kemungkinan balita bisa masuk SD. Akibatnya banyak anak yang umur mentalnya sudah tinggi namun tidak terstimulasi dengan baik, sehingga mereka bosan di kelas karena merasa materi yang diajarkan guru terlalu mudah.
Bila anda ingin melanjutkan membaca artikel tersebut, silahkan buka spoiler:

Kemungkinan anak yang masih usia TK bisa masuk SD juga dibenarkan Dra. Shinto B. Adelaar, M.Sc., psikolog perkembangan anak. Namun menurutnya bukan semata-mata karena IQ saja yang kelewat tinggi dibanding anak-anak lain. Si anak juga mesti punya tingkat kematangan yang mampu menghadapi stres dan situasi sekolah. “Sebab situasi dan cara belajar di SD berbeda dengan di TK. Di SD, anak lebih banyak duduk diam di tempat daripada bergerak atau jalan-jalan. Ia juga harus tekun mengerjakan tugas dalam waktu yang lebih panjang serta mau mematuhi instruksi guru. Berarti, dari segi pemikiran, si anak harus lebih matang,” Shinto menjelaskan.
Secara emosi, anak juga harus lebih matang, agar mampu mengontrol diri dan tidak lagi bertingkah laku berdasarkan keinginannya sendiri. Jadi, meski anak IQ-nya tinggi, belum tentu EQ-nya tinggi. Kalau anak itu masih dependent (bergantung pada orangtua), sikap bekerjanya belum terbentuk, masih banyak sikap bermainnya, kemungkinan besar bila anak dimasukkan ke SD ia bisa mengalami tekanan dan stres, sehingga menimbulkan reaksi malas belajar atau tidak mau sekolah.
Selain berefek malas, anak yang terlalu dipaksakan lompat jenjang pendidikan bisa menimbulkan masalah psikologis. Kasihannya, pada anak balita itu. Di usia itu mereka masih ingin main, sementara anak lainnya sudah tidak ingin main lagi. Di jenjang pendidikan berikutnya, misalnya saat di perguruan tinggi dan si anak baru berusia 15 tahun, secara emosional dan sosial ia belum sematang teman lainnya. Tak jarang temannya akan mengangap dia sebagai anak kecil, karena mungkin dari segi fisik belum berkembang sepenuhnya. Jadi dari segi sosial ada hambatan. Atau karena susah bergaul karena komunikasinya sering tidak nyambung, anak lebih senang membenamkan diri pada buku.
Memperdalam, bukan Mempercepat
Kadang orangtua yang punya anak berbakat yang mulai bosan di playgroup atau TK, jadi geregetan dan ingin menaikkan anak ke SD. Namun menurut Shinto, ini bukan solusi yang baik, apalagi jika hanya karena orangtua melihat anak itu lebih cerdas dibanding anak lainnya.
“Jika ingin memasukkan anak ke SD di usianya yang belum cukup, sepatutnya melihat dulu kondisi anak, karena apapun yang dipaksakan sebelum waktunya akan mengundang risiko. Kalau anak itu enjoy, bisa bergaul dengan lingkungan sosialnya dan senang belajar, tak masalah. Silakan saja melompatkan anak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tapi jika tidak, jangan dipaksakan, karena orangtua hanya akan merampas waktu bermain anak.”
Lebih baik menurutnya, perkaya pengetahuan dan kematangan anak. Orangtua tidak perlu ‘mempercepat’ tapi lebih ‘memperdalam’ pengetahuan anak. Misalnya anak TK A, pengetahuannya baru sampai C, kita asah pengetahuan anak hingga sampai F. Tapi levelnya tetap TK A. Tujuannya, supaya nanti si anak tumbuh menjadi anak yang pintar dan kreatif dan punya kepribadian yang matang. “Saya percaya kematangan kepribadian itu lebih banyak menunjang keberhasilan anak, daripada
semata-mata kecerdasaan intelektual saja.”
Menaikkan anak ke kelas yang lebih tinggi, misalnya tidak masuk kelas 1 tapi langsung kelas 2, juga bukan solusi yang baik. Sebab dengan menaikkan kelas anak, berarti ada materi tertentu yang tertinggal. Sebaiknya, untuk anak berbakat ini dimasukkan ke kelas akselerasi. Disana mereka akan memperoleh kurikulum lebih singkat dan padat tanpa harus kehilangan satu materi pun. Toh sekarang banyak sekolah unggulan yang menyenggarakan kelas akselerasi.
Dengan masuk kelas akselerasi dan bergabung dengan anak lain yang punya kemampuan yang sama, anak lebih terstimulasi. Sebab anak yang sangat cerdas jalan pikirannya tidak sesuai dengan anak seusianya. Bila ngobrol ia tidak ‘nyambung’. Bagi anak yang kecerdasaannya rata-rata, anak yang terlalu cerdas ini jadi membosankan, menganggap si anak terlalu serius karena omongannya jauh ke depan dari anak yang lain.
Amati Tanda-tanda Awal
Agar orangtua tak terlalu lama mengetahui kalau si kecil berbakat, sebaiknya orangtua melihat dan memperhatikan kemampuan anak sejak dini. Tanda-tanda anak berbakat dapat dilihat dari pertanyaan yang ia ajukan. Pertanyaan si anak biasanya mendalam, kritis, dan tidak cepat puas dengan jawaban yang sekedarnya. Anak memberikan reaksi yang lebih matang dari usia sebayanya, cepat bisa membaca sendiri tanpa diajarkan.
Caranya, dengan memberi rangsangan dan sarana yang bisa merangsang bakat anak, misalnya menyediakan aneka permainan. Dengan begitu, selain anak akan terpacu intelektualitas dan kreativitasnya. Supaya tidak salah langkah, orangtua perlu memeriksakan anak ke psikolog untuk mengetahui apakah anak itu berbakat, sebelum memasukkan anak ke SD pada usia dini.
Shinto menyarankan, orangtua yang punya anak berbakat dengan IQ tinggi, tapi emosinya belum berkembang, sebaiknya tidak meloncatkan anaknya ke kelas atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sebab belajar di SD itu lebih susah, apalagi SD di Jakarta. Anak terlalu banyak di-drill sehingga banyak mengurangi minat anak untuk belajar. Lebih baik anak tetap di TK tapi ia diberi tambahan pengetahuan yang banyak.”

Ada kalimat yang menarik pada kutipan artikel di atas; "jumlah anak berbakat di Indonesia sekitar 2-5% dari keseluruhan anak"...
Terlepas dari validitas angka prosentase tersebut, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa jumlah anak berbakat memang sedikit. Jauh lebih banyak yang normal-normal saja.
Permasalahannya, banyak ditemui orang tua yang merasa anaknya istimewa sehingga bersikeras memasukkan anaknya ke SD sebelum cukup usia padahal belum tentu anaknya istimewa atau termasuk dalam 2,5% seperti disebutkan dalam artikel di atas. Mengapa sih tidak sabar sedikit menunggu anaknya berumur mendekati 7 tahun? (sejak saya masih SD dulu, -sependek yang saya tahu dan sepanjang yang saya punya-, usia masuk SD adalah 7 tahun)...

Pelajar sekolah dasar umumnya berusia 7-12 tahun. Di Indonesia, setiap warga negara berusia 7-15 tahun tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yakni sekolah dasar (atau sederajat) 6 tahun dan sekolah menengah pertama (atau sederajat) 3 tahun.
Ketika otonomi daerah mulai diberlakukan sejak 2001 lalu, urusan pendidikan dasar menjadi urusan di bawah dinas pendidikan masing-masing daerah. Aturannya tetap sama, usia masuk SD diutamakan 7 tahun, bila kapasitasnya masih mencukupi bisa menerima murid yang berusia 6 tahun dengan prioritas usia mendekati 7 tahun. Tentunya, angka 7 itu sudah melalui penelitian panjang sebelumnya.
Nah... Apa yang akan terjadi bila anak dipaksakan masuk SD sebelum cukup usia??? Tidak akan terjadi apa-apa kecuali semakin lama anak akan semakin terbebani dengan kewajiban-kewajiban bersekolah yang pada akhirnya bukannya menumbuhkan prestasi malahan menjadikan anak ketinggalan. Perilaku orang tua yang terlalu PEDE akan keistimewaan anaknya akan menciptakan anak-anak lelah yang kehilangan kegembiraan sebagai anak-anak. Mereka tidak lagi bebas bermain dan bersosialisasi dengan teman dan lingkungan melainkan harus belajar dan belajar sepanjang waktu. Seusai sekolah mereka akan mengikuti les-les dan bimbel-bimbel juga menghadapi setumpukan PR yang melelahkan.
Saya bukan psikolog, namun saya mempunyai pengalaman empiris di keluarga dan handai taulan saya dimana yang masuk SD cukup umur, ketika menginjak usia SMP, SMA dan seterusnya akan lebih cakap dalam memecahkan persoalan-persoalan matematis. Yang kesusu sekolah semakin naik tingkat semakin melorot prestasinya. Anak saya yang kedua, Nanin, yang masuk SD pada saat cukup usia (tidak kesusu sekolah seperti Diki kakaknya) lebih enjoy belajar namun prestasinya tak kalah dengan kakaknya. Adik bungsu saya yang termasuk kesusu sekolah sehingga akhirnya menjadi sarjana pada usia menjelang 21 tahun pun mengakui sendiri. Dia merasa dalam banyak hal agak bebal dan perlu belajar ekstra keras bahkan kadang-kadang perlu mundur dulu sedikit agar bisa mengejar ketinggalannya.
Bagaimanapun saya tetap sepakat bahwa idealnya anak masuk SD ketika usianya 7 tahun. Ini ada kutipan lagi yang layak untuk dipertimbangkan! Silahkan buka spoilernya:

fakta yang ditemukan oleh ahli-ahli neurologi yang menyatakan bahwa pada saat lahir otak bayi mengandung 100 sampai 200 milyar neuron atau sel syaraf yang siap melakukan sambungan antar sel.
sekitar 50% kapasitas kecerdasan manusia telah terjadi ketika usia 4 tahun, 80% telah terjadi ketika berusia 8 tahun, dan mencapai titik kulminasi 100% ketika anak berusia 8 sampai 18 tahun.
para ahli sepakat bahwa periode keemasan tersebut hanya berlangsung satu kali sepanjang rentang kehidupan manusia
nah …
masalahnya … seperti yang dikatakan oleh Prof Suharyadi dari UI bahwa otak belakanglah yang menentukan kecerdasan seseorang … terutama untuk anak usia 7 tahun ke bawah ya …
untuk usia 7 tahun ke bawah, pembelajaran yang terbaik adalah yang mengedepankan kenyamanan fisik (r-system), emosi (limbic), dan kesempatan untuk berimajinasi (right brain) …
tanpa adanya kenyamanan untuk berimajinasi, maka otak akan memerintahkan tubuh bertindak atas dasar pencarian kenyamanan emosi … terjadilah yang judulnya ngambek, mogok, malas, membangkang, dlsb …
tanpa adanya kenyamanan untuk emosi, maka otak akan memerintahkan tubuh bertindak atas dasar pencarian kenyaman fisik (pertahanan tubuh) … terjadilah yang judulnya badan panas, perut melilit, muntah2, dlsn …
tanpa adanya kenyamanan fisik, maka otak akan memerintahkan tubuh untuk berhenti!
nah lho …
jadi … kembali lagi …
lain dulu lain sekarang …
andaikan kelas 1 SD masih seperti dulu … maka tanpa keraguan saya tidak akan khawatir jika ada anak di bawah umur yang masuk ke SD
sayangnya … SD sekarang tidak seperti SD yang dulu …
SD sekarang sarat materi, yang sayangnya, walaupun beban kurikulum semakin berat tetap saja kualitas HDI kita termasuk di bagian bontot …
kira-kira sudah bisa menjawabkah? kenapa sebaiknya masuk SD di usia 7 tahun?
kalau belum … mari kita melihat kondisi2 sekolah yang ada di sekitar kita …
jika kita masukkan anak ke SD pada usia 6 tahun, maka ia masih berada pada tahap kritis keterampilan sosial … padahal … ketika di SD biasa, bersosialisasi di dalam kelas adalah perilaku yang tidak diijinkan …
jika kita masukkan anak ke SD pada usia 5 tahun, maka selain masih tertatih-tatih dalam keterampilan sosial, ia baru saja melewati (atau malah masih berada pada) masa kritis dalam perkembangan motorik (kekuatan dan keterampilan fisik) … padahal … ketika di SD biasa, bergerak di dalam kelas adalah hal yang tabu kecuali diijinkan oleh gurunya … dan ketika di SD biasa, menulis adalah sebuah keharusan sementara perkembangan anak masih belum matang …
jika kita masukkan anak ke SD pada usia 4 tahun … coba lihat … perkembangan apa saja yang diterabas?

Akhirnya, bila anda ingin memasukkan anak ke SD sebelum cukup umurnya, pastikan bahwa dia benar-benar mampu baik secara intelektual maupun secara sosial... Anak kita adalah masa depan kita!... :-)
READ MORE - Umur Ideal Masuk SD

Jumat, 25 Desember 2009

Internet For Moms


Maaf, sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis di blog ini. Kesibukan mengurus anak-anak pada saat ujian semester, dilanjutkan liburan seminggu di Semarang, dan sekarang akan kembali mengurus anak-anak pada hari-hari awal masuk sekolah, sungguh membuat saya kehabisan waktu. Ternyata sudah terlalu lama saya tidak menulis di blog. Dibarengi kesibukan pakne Diki yang sangat luarbiasa, juga karena Diki dan Nanin yang sedang suka Facebook, membuat saya paling sedikit kebagian jatah ber-internet. Beberapa kali menyempatkan bezoek blog ini, berkunjung ke beberapa blog yang pemiliknya menyapa saya dengan memberi komentar atas tulisan saya, yach... hanya itulah yang sempat saya lakukan.

Namun, tidak menulis di blog bukan berarti tidak ada tulisan sama sekali. Hobby menulis sebagai wahana menuangkan sesuatu dari pikiran tetap jalan terus. Salah satunya tulisan dibuat karena kena giliran ngisi di Pertemuan Rutin PKK Kelurahan Gumpang, Kartasura, Sukoharjo, dimana harus membuat naskah dan membagikannya kepada peserta pertemuan. Dasar mantan guru, tulisan saya masih juga berkisar masalah pendidikan. Ini tulisannya:


ANAK SEBAGAI HARTA YANG SANGAT BERHARGA


Anak merupakan aset harta kita yang tidak ternilai bila dibandingkan dengan segala harta apapun di muka bumi ini, karena anak bisa memberikan kebahagiaan dan keselamatan pada kita sebagai orang tua baik di dunia maupun di akhirat kelak. Maka dari itu, ada tips untuk kita sebagai orang tua agar bisa melaksanakan kewajiban utama untuk menjaga anak kita agar bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, setidaknya yang bisa membawa kemuliaan kita yaitu dengan memperhatikan kesehatan dan pendidikan bagi mereka.

Kesehatan, meliputi 2 aspek;
a.Fisik
Dengan memperhatikan dan memberikan makanan yang sehat dan bergizi menurut kemampuan rizki kita, yaitu terutama makanan sehat. Kalau menurut pemerintah, makanan sehat adalah yang sesuai dengan 4 (empat) sehat 5 (lima) sempurna. Tapi menurut ahli gizi, yang terpenting ada 3 (tiga) unsur meliputi unsur pertama yaitu penyedia tenaga (terdapat dalam makanan yang mengandung karbohidrat misalnya nasi, ubi, roti, ketan, ketela, dan lain-lain), unsur kedua yaitu penyedia zat pembangun (terdapat dalam makanan yang mengandung protein misalnya ikan, daging, tahu, tempe, kacang-kacangan, telur, susu), unsur yang ketiga yaitu penyedia zat pengatur (terdapat dalam makanan yang mengandung vitamin dan mineral misalnya sayur-sayuran dan buah-buahan).
Untuk ibu-ibu yang baru melahirkan, sangat disarankan untuk memberi ASI eksklusif sampai 6 bulan, bahkan dalam Islam dianjurkan menyusui sampai anak berumur 2 (dua) tahun.
b. Psikis
Memberikan perhatian dan kasih sayang sesuai dengan usia anak (balita, anak-anak, remaja, dan dewasa), dan memberi kesempatan untuk bergaul atau bersosialisasi dalam masyarakat.

Pendidikan, meliputi 3 aspek;
a. Keluarga
Memperhatikan perkembangan anak dan memberikan pengajaran yang sesuai dengan usia. Sangat penting untuk menanamkan kesadaran beragama sejak dini (tentu saja sesuai dengan keyakinannya masing-masing).
b. Sekolah
Anak harus selalu didorong untuk berprestasi sesuai kemampuannya dan tidak perlu berlebihan sehingga anak tetap mempunyai kesempatan yang cukup untuk bersosialisasi. Sekolah pun tidak harus mahal, apalagi di Kabupaten Sukoharjo sudah memberlakukan sekolah murah bahkan gratis mulai dari tingkatan SD, SMP, dan SMA tidak dipungut SPP maupun uang gedung, di sekolah-sekolah negeri.
c. Lingkungan
Walaupun dalam keluarga dan sekolah sudah dilakukan usaha semaksimal mungkin, lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak. Oleh karena itu mari kita bersama-sama saling mengawasi pergaulan anak-anak kita, saling mengingatkan, sehingga mereka bisa belajar bertanggung jawab.

Kesimpulan
Walaupun tidak ada rumus baku dalam mendidik anak, Insya Allah, dengan melaksanakan kewajiban kita sebagai orang tua dengan sebaik-baiknya yang dibarengi dengan doa, maka anak-anak kita bisa menjadi anak yang menjunjung tinggi martabat orang tuanya baik di dunia maupun di akhirat.

Nurchayati
nhbunoor@gmail.com
www.bunoor.blogspot.com / www.kekasih.cahbag.us

Tentu saja ketika berbicara, teks itu berbunga-bunga, penuh dengan bermacam-macam cerita yang membuat ibu-ibu terpana. Ketika pulang dari Pertemuan PKK itu, beberapa ibu-ibu bertanya, itu nhbunoor@gmail.com dan www.bunoor.blogspot.com artinya apa?

Oh, ternyata perlu juga dikembangkan "Internet for Moms" di kampungku, seperti pakne Diki mengembangkan Internet for Kids. Hehehe...
READ MORE - Internet For Moms