this blog is officially the worlds number 3 commentluv blogger blog (Andy Bailey)

Senin, 2008 Desember 08

Suasana Qurban di Masjid Baiturrahman Gumpang, Kartasura

Tulisan serupa dipublikasikan di: www.andymse.pattiro.net

Foto-foto oleh: Diki, Nanin dan Bu Noor

Tidak terlalu banyak bercerita, semoga ilustrasi berikut sudah cukup menggambarkan suasana kemeriahan Idul Adha atau Idul Qurban di Gumpang, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah.


Sholat Idul Adha di Jalan Raya di depan Pasar Bumirejo, Pabelan, atau lebih sering disebut Pasar Gumpang >>:



Penyembelihan 4 ekor sapi dan 13 ekor kambing yang merupakan qurban dari masyarakat sekitar Masjid Baiturrahman, Tegalmulyo, Gumpang, Kartasura. Selanjutnya hewan qurban dikuliti dan dipotong-potong dagingnya untuk dibagikan kepada warga sekitar Masjid Baiturrahman >>:



Ibu-ibu dan gadis-gadis tak mau ketinggalan dalam memotong daging dan mengemas dalam bungkusan plastik >>:


Bagian konsumsi juga sangat berperan penting >>:



Serba-serbi >>:

Ada seksi khusus yang kebetulan tidak terekam gambarnya yaitu seksi pencucian isi perut hewan qurban, penimbangan, dan pencatatan. Para panitia yang bekerja dengan gesit dan terencana, sangat mendukung suksesnya pelaksanaan penyembelihan hewan qurban.

Yups... keren kan???

Apakah Idul Qurban di tempat sedulur sekalian juga rame seperti ini???

Selasa, 2008 Oktober 28

Menur dan Markisa

Dulu saya pernah bercerita mengenai tanaman hias di rumah saya. Sampai berbulan-bulan sesudah itu, masih tersisa sebagian halaman yang rupanya terlalu sulit untuk ditanami. Kebetulan sudutnya kurang tepat sehingga panas matahari membakar tempat itu dan menjadikannya gersang. Beberapa kali saya mencoba menempatkan tanaman hias di tempat itu, jadinya malah daunnya terbakar dan beberapa malah layu dan mati, padahal saya sudah berusaha menjaga ketersediaan air untuk tanaman-tanaman itu. Akhirnya, selama ini, saya hanya bisa memanfaatkan tempat itu untuk menjemur kasur dan menjemur pakaian.
Suatu hari, pakne Diki membawa beberapa buah markisa. Katanya itu untuk membuat sirup markisa. Saya tidak melihat bagaimana prosesnya secara jelas, hanya saja setelah pakne Diki memeras biji-biji markisa itu dengan kain, dengan hati-hati biji-biji itu dikumpulkan dan dijemur sampai kering. Ternyata pakne Diki ingin menanam markisa.
Beberapa minggu kemudian di bagian halaman yang gersang itu terlihat lebih segar karena muncul tunas-tunas markisa yang tumbuh dengan cepat. Selama berhari-hari pakne Diki memasang peneduh agar tunas-tunas markisa bisa bertahan dari sengatan sinar matahari. Pada hari libur selanjutnya pakne Diki membuat para-para dari kawat agar markisa yang menjalar liar dapat diatur lebih rapi. Beberapa bulan kemudian, jadilah bagian halaman yang dulunya gersang sudah terlihat segar menghijau. Saya pun bisa menanam beberapa tanaman hias di bawah naungan markisa tanpa khawatir daunnya akan terbakar, atau layu dan mati. Belum teratur sih, baru asal-asalan saja. Namun saya sudah cukup senang.

Salah satu tanaman yang saya sukai adalah menur. Saya menanamnya dari stek yang saya ambil dari Limbangan, Kendal, dari halaman rumah yang dulu pernah kami tinggali. Menur itu dulu saya tanam ketika saya sedang hamil Nanin. Rumah yang dulu pernah kami tinggali itu akan dibongkar dan dibangun ulang, kebetulan saya sedang berkunjung ke Limbangan, sungguh sayang sekali kalau menur itu nanti hanya tinggal kenangan.
Bunga menur berwarna putih, bentuknya mirip dengan bunga melati namun tidak seharum bunga melati. Walaupun begitu, menur biasanya berbunga sangat banyak, jauh lebih banyak dari melati, terutama di musim panas dengan syarat harus mendapatkan air yang cukup.
Sedangkan markisa, sekarang sudah mulai berbunga. Saya berharap, beberapa minggu atau beberapa bulan lagi sudah bisa membuat sirup markisa dari buah yang saya petik dari halaman rumah sendiri.Hmm... indahnya...

Jumat, 2008 Oktober 10

Cerita Mudik

Sebetulnya saya bingung untuk bercerita. Bagaimana tidak? Acara sedemikian banyak, juga berpindah-pindah tempat, bisa jadi ceritanya sangat panjang. Singkatnya, kami sekeluarga mudik siang hari pas pada hari Lebaran yang baru lalu. Maklum, jaraknya hanya sekitar 100km saja. Jadi tidak butuh banyak persiapan.
Sengaja saya tidak menggunakan kata pulang kampung, karena mudik saya ke Semarang, di tengah-tengah kota lagi, tepatnya di sebelah barat Pasar Bulu Semarang. Kalau pakne Diki memang asalnya dari kampung, jadi, saya pulang kota, pakne Diki pulang kampung, hehe. Untuk menyingkat cerita, ada baiknya saya lampirkan fotonya saja.


Suasana Sholat Ied di Lapangan Gempol, Kartasura.


Halal Bi Halal di Masjid Baiturrahman, Gumpang, Kartasura.


Istirahat sejenak setelah 50km naik motor. Sebetulnya Diki dan Nanin ingin mampir di Kampoeng Kopi Banaran, Bawen, Kab. Semarang, namun berhubung tutup karena libur lebaran, akhirnya istirahat dan minum es kelapa muda di pinggir jalan di depan Kampoeng Kopi Banaran.


Mampir di Bandungan, karena Nanin pengin naik ATV.


Berwisata di Kampung Djowo, Limbangan, Kendal. Diki senang sekali berfoto di dekat tanaman. Katanya, dia ingin jadi Ahli Pertanian kelak.


Suasana Halal Bi Halal Keakraban Bani Elyas (keluarga Ibu saya). Keluarga Bapak saya (Bani Zain), tahun ini tidak mengadakan Halal Bi Halal.


Aneka makanan kecil di rumah mbah Chab, ibu dari pakne Diki. Menurut hitungan Nanin, ada 34 macam. Maklumlah, mbah Chab adalah pensiunan guru SD juga seorang ustadzah/da'i, sejak dulu sewaktu masih aktif mengajar, setiap Lebaran pasti banyak tamu, tua muda, besar kecil.


Keluarga pakne Diki (8 bersaudara). Berkesempatan berkumpul lagi setelah 5 tahun.


Nanin yang kelelahan tertidur di kursi sewaktu diajak ke desa kelahirannya, Limbangan, Kendal.

Kami kembali lagi ke Solo tanggal 8 Oktober 2008 karena anak-anak sudah harus masuk sekolah pada 9 Oktober 2009. Sedangkan pakne Diki, karena masih mengemban tugas dari mbah Chab, ibunda beliau, terpaksa selisih 2 kari baru bisa kembali ke Solo. Sekarang semua aktivitas sudah kembali seperti sediakala.

Kamis, 2008 September 25

Selamat Idul Fitri 1429H

Kami sekeluarga menghaturkan

Taqabbalallahu minna wa minkum, minal aidin wal faizin...

Teriring salam untuk semua saudara bloggers baik yang beragama Islam maupun tidak yang telah berkomentar di blog ini, kami sampaikan ucapan maaf yang sebesar-besarnya.

(karena sekeluarga harus mudik, nge-blog-nya libur dulu)

Sabtu, 2008 September 20

MP3 Player

Saya suka musik, saking senangnya dimana-mana selalu ingin dengar musik. Tentu saja tidak semua musik, hanya yang saya sukai saja.

Dua tahun lalu, Pakne Diki yang pengertian membelikan sebuah MP3 Player mungil berkapasitas 512MB. Pada waktu itu kapasitas segitu sudah cukup lumayan. Saya senang, karena bisa mendengarkan musik sambil menyapu halaman, mengepel, menyeterika, masak, mencuci. Pokoknya sambil beraktivitas sehari-hari di rumah. Pakai MP3 Player itu sungguh fleksibel, tidak repot seperti menggunakan soundsystem yang gede yang tidak bisa dibawa kemana-mana, yang kalau saya ingin mendengarkan musik sambil menyapu halaman harus dibesarkan volumenya (bisa-bisa mengganggu tetangga). Dengan MP3 Player mungil itu, musik cukup saya nikmati sendiri. Seringkali saya menyambungkan dengan speaker aktif kecil yang mudah dipindah. Suaranya cukup nyaman, maklum, Pakne Diki sudah mengutak-utik sehingga walaupun kecil suaranya jernih, bass-nya mantap.
Beberapa hari lalu, saya mendengarkan musik sambil mencuci. Tiba-tiba ketika akan mengganti lagu, MP3 Player itu jatuh ke dalam mesin cuci yang penuh air sabun. Segera saya ambil, tapi sudah mati dan tidak bisa dihidupkan lagi. Saya sedih sekali...

Malam harinya saya ceritakan pada Pakne Diki perihal peristiwa naas siang hari itu. Pakne Diki mengamati MP3 Player itu, membawanya ke kamar kerjanya dan membongkarnya. Karena persediaan silica-gel kebetulan habis (Pakne Diki biasa menggunakan silica-gel untuk mengepak barang-barang elektronik yang akan dipaketkan), Pakne Diki menaruh MP3 Player yang sudah dibongkar itu dalam sebuah kotak bersama segenggam beras.

Beberapa hari kemudian, semalaman Pakne Diki mengutak-utik MP3 Player itu, sibuk bermain blower dan mencari-cari komponen dari hp dan motherboard rusak. Esoknya MP3 Player itu sudah sembuh. Kata Pakne Diki, ada beberapa kapasitor yang meletus karena MP3 Player itu dicoba dihidupkan dalam keadaan basah. Saya tidak mudheng karena komponen yang dimaksud Pakne Diki yang diblower-blower di bawah loop itu besarnya hanya seperempat butiran beras.

Saya senang karena MP3 Player itu bisa dipakai kembali, walaupun harus diisi lagu baru. Saya juga bangga, Pakne Diki itu walaupun bentuk tangannya jelek, kukunya pendek-pendek, tapi sangat trampil.
Sebetulnya ketrampilan tangan Pakne Diki sudah jauh berkurang semenjak 4 tahun lalu jatuh setelah dari sepeda motor dan patah tulang pundaknya, pun pernah terkena typhus dan demam berdarah. Sampai sekarang jari-jarinya agak bergetar kalau memegang benda-benda kecil -saya tidak tahu, apakah musibah itu berpengaruh pada koordinasi motorik tangannya-.
Yah... senang juga, akhirnya saya bisa kembali nyetel lagu. Ketika dicoba pertama kali, Diki berkomentar, "Wah... sekarang suaranya lebih bersih ya!"
Pakne Diki enteng saja berkomentar, "Ya eeyalah, lha wong habis dicuci, pakai mesin lagi."
Saya jadi malu, apalagi Diki masih menambahi, "Oooo... nggak heran deh! Ada wangi Molto!"